SUGENG_RAWUH


Selasa, 11 Oktober 2011

Konsistensi dalam beragama


KONSISTENSI DALAM BERAGAMA*
Written by: Fattach_yaseen


Surah Asy-Syura ayat 13
شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِينَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ اللَّهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ يُنِيبُ
Substansinya adalah:
1. Allah swt selalu menekankan agar tangguh dalam beragama dan tidak bercerai-berai, sehingga karena demikian pentingnya maka hal itu menjadi misi khusus bagi rasul Ulul Azmi.
2. Dalam rangka pelurusan teologi diperlukan semangat berusaha yang sangat besar, namun Allah swt tetap menjamin kesuksesannya.
Keterangannya adalah:
Ayat di atas melansir stressing Allah Swt kapada kaum muslim untuk senantiasa berpegang teguh atas ajaran agama islam.

Selain itu, firman Allah di ats juga merupakan early warning untuk senantiasa menghindari perpecahan dalam tubuh umat islam. Memegang teguh ajaran islam dalam masa sekarang dimana segala pintu kemudahan dunia telah dibuka lebar oleh Allah Swt dan sekan-akan rasa kemanusiaan sudah tercerabut dari akar manusia sangatlah berat, seperti menggenggam bara dalam tangan. Jika dilepaskan, bara itu akan mati, namun apabila tetap digenggam terasa sangatlah penas dan menyakitkan. Jauh-jauh hari Nabi Muhammad Saw telah memberikan sinyalemen akan hal tersebut, salah satu potongan Hadist melansir redaksi
يُصْبِحُ الْرَّجُلِ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا ، يَبِيْعُ قَوْمٌ دِيْنَهُمْ بِعَرْضِ مِنْ اْلدُّنْيَا قَلِيلً الْمُتَمَسِّكُ يَوْمَئِذٍ بِدِيْنِهِ كَالْقَابِضُ عَلَى الْجَمْرِ
Artinya: “Seseorang akan iman padapagi hari dan sore harinya dia akan kafir, Sebuah kaum akan menjual agamanya dengan ditukar dengan harta dunia yang sangat sedikit, pada hari itu, orang yang berpegang teguh atas ajaran agamanya laiknya menggenggam bara api”
Selain itu, menghindari perpecahan diantara umat islam merupakan tugas yang sangat berat memandang heterogensi golongan-golongan dalam tubuh islam yang menjamur. Setiap sempalan mengklaim jika merekalah yang paling benar dan menganggap yang lainnya salah dan wajib dihindari. Dengan dalih upaya menjaga kemurnian agama. Kalau hal demikian dibiarkan berlarut-larut dan dipandang sebelah mata, niscaya islam akan menjadi sebuah menara gading yang lambat laun rapuh dan runtuh hanya dengan hembusan angin provokasi dari musuh-musuh islam.
Yang tak kalah berat dari upaya memegang teguh ajaran islam ialah perombakan teologi dari penyembah berhala menuju agama tauhid. Dapat kita bayangkan bagaimana Nabi Muhammad Saw berdarah-darah mendakwahkan islam pada masyarakat jahiliyyah pada waktu itu, dapat kita rasakan penderitaan yang ditanggung Nabi Nuh a.s dalam upaya menyerukan menyembah Allah kepada kaumnya, sehinga beliau berdoa kepada Allah Swt untuk menenggelamkan kaumnya karena ketidak mampuan beliau mennggung semuanya. Sehingga tidak heran jika misi suci tersebut oleh Allah Swt diembankan kepada Rasul Ulul Azmi.


*Resensi kajian substansi Ayat-ayat Al-Qur`an bersama Romo K.H. Drs. Aly As’ad (Founding Father dan Pengasuh Ponpes Nailul Ula)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar